Potret gedung SD Persiapan Ukar Bati di Kecamatan Tutuk Tolu, Kabupaten Seram Bagian Timur, yang hingga kini masih minim fasilitas dan belum pernah direnovasi sejak 2004. (Foto: iNewsUtama.com/ist)
Tutuk Tolu, iNewsUtama.com – Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, namun semangat kemerdekaan itu seakan belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di pelosok. Dunia pendidikan kembali mendapat sorotan tajam, kali ini datang dari SD Persiapan Ukar Bati di Kecamatan Tutuk Tolu, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), yang hingga kini masih minim fasilitas.
Abdul Rumalean, salah satu tokoh masyarakat, menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara sebagaimana dijamin oleh konstitusi. Namun, realita di lapangan menunjukkan ketimpangan akses pendidikan masih sangat terasa, khususnya di desa terpencil.
“Ketimpangan ini jelas terlihat antara daerah perkotaan dan perdesaan, terutama kami di Desa Bati Kilwou. Salah satu penyebab utamanya adalah distribusi sarana dan prasarana pendidikan yang tidak merata. Banyak sekolah di daerah terpencil tidak memiliki ruang kelas yang layak, buku bacaan, maupun perlengkapan pendidikan. Ditambah lagi kekurangan tenaga pengajar yang enggan ditempatkan di daerah terpencil karena fasilitas dan insentif yang minim,” ungkapnya kepada iNewsUtama.com, Sabtu (16/8/2025).
Sementara itu, Ahmad, warga setempat, menambahkan bahwa gedung SD Persiapan Ukar Bati yang dibangun sejak tahun 2004 hingga kini tak pernah mendapat perbaikan berarti.
“Sejak awal berdiri sampai sekarang, tidak ada perubahan pada jendela maupun ruang belajar. Buku dan papan tulis pun tidak tersedia. Ini bukan karena sekolah tidak aktif, melainkan kurangnya perhatian dari Dinas Pendidikan Kabupaten SBT,” katanya.
Ahmad mengaku pernah menyuarakan masalah ini lewat media sosial pada 2019. Saat itu, Kadis Pendidikan Sidik Rumalowak turun langsung meninjau lokasi. Hasilnya, sekolah tersebut diresmikan menjadi SD Persiapan Ukar Bati dengan kepala sekolah pertama Jamaluddin Rumbati. Namun, hingga tahun 2025, tepat di HUT ke-80 RI, kondisi sekolah masih memprihatinkan.
Masyarakat juga khawatir dengan keselamatan anak-anak saat belajar, terutama di musim hujan dan angin kencang. Gedung yang rapuh membuat warga selalu waswas.
“Kami berharap, di momen kemerdekaan ke-80 ini, ada perhatian serius dari pemerintah daerah, khususnya Bupati SBT Fahri Husni Al Katiri, untuk turun langsung melihat kondisi sekolah. Anak-anak di sini juga berhak merasakan pendidikan yang layak seperti anak-anak di daerah lain,” tutupnya.(SLP)

