Malteng,iNewsUtama.com--Tuduhan bahwa proyek preservasi jalan nasional ruas Saleman–Besi–Wahai–Pasahari senilai Rp24 miliar tidak dikerjakan dan mengarah pada pekerjaan fiktif dinilai tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan bahwa kondisi jalan khususnya pada ruas Besi hingga Pasahari saat ini telah beraspal dengan kualitas baik dan layak dilalui. Jalan yang sebelumnya rusak kini sudah mengalami peningkatan signifikan, memudahkan mobilitas warga dan distribusi logistik di wilayah Seram Utara.
Adapun titik yang masih mengalami gangguan, terutama di kawasan Gunung SS, disebut bukan akibat kelalaian pekerjaan, melainkan karena kondisi geografis ekstrem. Kawasan tersebut dikenal rawan longsor dan memiliki struktur tanah yang labil serta sering bergerak, sehingga membutuhkan penanganan berulang dan berkelanjutan.
“Kalau dibilang tidak ada pekerjaan itu tidak benar. Dari Besi sampai Pasahari jalannya sudah bagus, aspalnya jelas. Yang di Gunung SS memang sering longsor karena tanahnya bergerak, tapi sampai hari ini alat berat masih terus bekerja,” ujar Ahmad Salatin, warga Seram Utara, saat melintasi ruas jalan tersebut pada sore hari, 02 Februari 2024.
Salatin juga menyampaikan apresiasi terhadap Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Maluku yang dinilainya sigap dan tetap bekerja di tengah tantangan alam yang tidak ringan.
“Kami sebagai masyarakat melihat langsung. BPJN Maluku tidak tinggal diam. Mereka terus bekerja tanpa henti demi kebutuhan infrastruktur di Pulau Seram,” tegasnya.
Fakta lapangan ini sekaligus menunjukkan bahwa narasi proyek fiktif dan tudingan tidak adanya pekerjaan perlu diuji ulang secara objektif, dengan menempatkan kondisi geografis Maluku yang rawan bencana sebagai variabel penting dalam menilai progres pekerjaan infrastruktur.
Pembangunan jalan nasional di wilayah dengan karakter tanah labil dan tingkat curah hujan tinggi, seperti Seram Utara, tidak bisa disamakan dengan wilayah datar dan stabil. Penanganan longsor dan pergerakan tanah justru menjadi indikator adanya pekerjaan berkelanjutan, bukan sebaliknya.
Dengan demikian, penilaian terhadap proyek jalan nasional Saleman–Besi–Wahai–Pasahari seharusnya didasarkan pada fakta lapangan terkini, bukan semata asumsi atau narasi sepihak yang berpotensi menyesatkan opini publik.(iNut)

