MANIPA,iNewsutama.com– Di tengah gencarnya narasi pemerataan pembangunan hingga ke wilayah terluar, masyarakat Kecamatan Kepulauan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), justru masih bergulat dengan persoalan-persoalan mendasar yang hingga kini belum terselesaikan. Transportasi laut yang tidak menentu, gangguan listrik berkepanjangan, serta akses telekomunikasi yang terbatas menjadi potret nyata ketertinggalan yang dirasakan warga setiap hari.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: sejauh mana perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar ribuan warga yang mendiami wilayah kepulauan tersebut?
Transportasi laut yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Manipa justru dinilai belum mampu menjawab kebutuhan warga. Ketidakpastian jadwal dan terbatasnya armada penyeberangan membuat mobilitas masyarakat sering terhambat. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga pelajar, tenaga kesehatan, hingga warga yang membutuhkan pelayanan darurat.
“Ketika kapal tidak beroperasi secara normal, aktivitas masyarakat praktis terganggu. Distribusi barang tersendat, harga kebutuhan pokok bisa melonjak, dan akses pelayanan kesehatan menjadi sulit,” ungkap salah seorang warga.
Di sektor kelistrikan, situasi yang dihadapi masyarakat tidak kalah memprihatinkan. Gangguan listrik yang terjadi berulang kali disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa solusi yang benar-benar tuntas. Pemadaman yang kerap terjadi membuat aktivitas ekonomi warga terganggu dan menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha kecil.
Lebih dari itu, ketidakstabilan listrik juga berdampak langsung pada dunia pendidikan dan pelayanan publik. Di era digital saat ini, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan pendukung, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat.
Ironisnya, di saat banyak daerah telah menikmati kemajuan teknologi informasi, sebagian wilayah di Kepulauan Manipa masih berjuang mendapatkan sinyal telepon dan akses internet yang layak. Keterbatasan jaringan telekomunikasi membuat masyarakat kesulitan berkomunikasi, mengakses informasi, hingga memanfaatkan layanan pemerintahan berbasis digital.
Kondisi tersebut menjadi tantangan serius, terutama bagi pelajar yang membutuhkan akses internet untuk menunjang proses belajar, maupun masyarakat yang memerlukan komunikasi cepat dalam situasi darurat.
Warga menilai berbagai persoalan ini bukanlah masalah baru. Keluhan mengenai transportasi, listrik, dan telekomunikasi telah berulang kali disampaikan, namun hingga kini belum terlihat perubahan signifikan yang mampu menjawab harapan masyarakat.
Sebagai wilayah kepulauan yang merupakan bagian dari Kabupaten Seram Bagian Barat, masyarakat Manipa berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Maluku, dan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat tidak lagi memandang persoalan ini sebagai masalah rutin yang dapat ditunda penyelesaiannya.
Masyarakat mendesak adanya langkah konkret dan terukur untuk memperbaiki konektivitas transportasi laut, meningkatkan keandalan pasokan listrik, serta memperluas jaringan telekomunikasi hingga menjangkau seluruh wilayah kepulauan.
"Pembangunan tidak boleh hanya terpusat di wilayah perkotaan. Warga kepulauan juga memiliki hak yang sama untuk menikmati layanan dasar yang layak," tegas salah satu tokoh masyarakat.
Kini masyarakat Kepulauan Manipa menunggu jawaban nyata dari pemerintah. Sebab tanpa perbaikan infrastruktur dasar, mimpi tentang pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kepulauan akan terus menjadi slogan tanpa makna di lapangan.(Ia.A)

