Malteng,iNewsUtama.com--Polemik proyek jalan nasional di Pulau Seram kini memasuki babak baru. Sejumlah tangkapan layar percakapan internal yang beredar mengindikasikan adanya dugaan penekanan hingga praktik menyerupai pemerasan terhadap Satuan Kerja (Satker) Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Seram.
Isi percakapan tersebut diduga melibatkan oknum yang mengatasnamakan media dan menggunakan pihak luar sebagai perantara untuk menekan Satker. Tekanan disebut dilakukan melalui skema investigasi yang disertai ancaman eskalasi pemberitaan.
Dalam salah satu pesan, pengirim secara terang menyebut rencana mengatur sejumlah orang untuk bergerak di lapangan dan “menginvestigasi” seluruh paket pekerjaan, dengan peringatan bahwa berita akan terus dinaikkan bila tidak ada respons.
“Metro, bilang antua ator 35 untuk pasukan dan yang ada gerak di lapangan, untuk investigasi semua paket-paket yang dikerjakan… klo seng setiap hari katong kase naik,” demikian isi pesan tersebut.
Narasi ini mengarah pada pola tekanan sistematis, di mana publikasi media dijadikan alat tawar. Pemberitaan bukan lagi sebagai fungsi kontrol sosial, melainkan diduga dimanfaatkan sebagai instrumen intimidasi.
Percakapan lanjutan menunjukkan adanya upaya menjaga jarak dari aksi lapangan dengan menyerahkan koordinasi kepada pihak ketiga.
“Gandong tlpon gandong seng mau angka berarti beta lepas tangan jua gandong nanti atur dengan Nxx saja.” Pesan lain memperkuat dugaan penggunaan orang luar sebagai pengendali komunikasi.
“Gandong baca SMS Nxx Pxxxxxxx kirim par Beta itu gandong.”
Rangkaian komunikasi ini, jika dibaca utuh, menggambarkan skema berlapis: aktor utama tidak bergerak langsung, melainkan memanfaatkan perantara untuk melakukan tekanan, sekaligus meminimalkan jejak keterlibatan.
Praktik seperti ini memunculkan pertanyaan serius, tidak hanya soal etika profesi jurnalistik, tetapi juga potensi pelanggaran hukum jika terbukti mengandung unsur intimidasi atau pemerasan.
Kemunculan percakapan tersebut terjadi di tengah maraknya tudingan proyek fiktif terhadap pekerjaan jalan nasional di Seram. Fakta adanya ancaman “menaikkan berita setiap hari” bila skema tertentu tidak dipenuhi menimbulkan kecurigaan bahwa sebagian narasi pemberitaan bisa saja tidak sepenuhnya murni berbasis fakta lapangan.
Padahal, proyek jalan nasional merupakan infrastruktur strategis yang menyangkut kepentingan publik luas. Tekanan terhadap Satker berpotensi mengganggu kinerja teknis, memperlambat pekerjaan, bahkan menciptakan instabilitas di lapangan.
Sejumlah pihak menilai kasus ini harus ditelusuri secara serius oleh aparat penegak hukum. Dugaan penekanan atau pemerasan terhadap institusi negara, apalagi melalui perantara, tidak dapat dianggap sepele.
Transparansi dan klarifikasi terbuka dari pihak-pihak yang disebut dalam percakapan juga dinilai penting agar tidak terjadi spekulasi liar di tengah masyarakat.
Publik, pada akhirnya, berhak mengetahui apakah pemberitaan yang beredar benar-benar murni hasil investigasi jurnalistik, atau justru bagian dari skema tekanan terstruktur yang dibungkus atas nama kontrol sosial.
Jika dugaan tersebut terbukti, maka ini bukan sekadar persoalan etika, melainkan pelanggaran serius terhadap hukum dan kepercayaan publik.(iNUT)


