Notification

×

Iklan



Iklan



KBHI SBB Imbau Hentikan Narasi Provokatif Terkait Sengketa Lahan Pengoboran Nikel Laala

Selasa, 07 April 2026 | April 07, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-07T12:15:05Z




(Wartawan-iNewsUtama)

Piru,iNewsUtama.com– Dewan Pengurus Daerah (DPD) Keluarga Besar Huamual Indonesia (KBHI) Kabupaten Seram Bagian Barat angkat bicara terkait memanasnya situasi sengketa wilayah dan aktivitas pengoboran nikel di kawasan Hutan Laala, Kecamatan Huamual.

Ketua DPD KBHI SBB, Fadli Bufakar, menyampaikan imbauan tegas kepada seluruh elemen masyarakat agar menahan diri dan tidak terprovokasi oleh berbagai isu yang berpotensi memecah belah persatuan.

“Kami meminta kepada semua pihak, baik yang terlibat langsung maupun pihak luar, untuk tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang dapat merusak kebersamaan masyarakat Huamual,” ujar Fadli.

Ia menegaskan bahwa hubungan persaudaraan di Huamual jauh lebih penting dibandingkan perbedaan pendapat terkait klaim wilayah. Menurutnya, konflik tidak boleh merusak ikatan yang telah terjalin sejak lama.

“Jangan sampai perbedaan ini merusak tali persaudaraan. Kita semua adalah satu keluarga besar Huamual,” tegasnya.

Fadli juga menyoroti maraknya narasi provokatif di media sosial yang dinilai dapat memperkeruh situasi. Ia meminta pihak-pihak yang tidak berkepentingan agar tidak ikut memperkeruh keadaan.

“Khusus bagi yang tidak terkait langsung, jangan membuat narasi provokatif yang hanya memancing emosi. Itu tidak menyelesaikan masalah, justru berpotensi memicu konflik horizontal,” katanya.

Ia menekankan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan secara bijak dengan mengedepankan logika dan kepala dingin, bukan emosi.

Untuk penyelesaian sengketa, KBHI berharap Pemerintah Daerah Seram Bagian Barat dapat segera turun tangan sebagai fasilitator netral guna membuka ruang dialog antara pihak-pihak yang bersengketa.

“Kami berharap ada pertemuan resmi yang difasilitasi pemerintah, sehingga persoalan ini dapat diselesaikan secara faktual berdasarkan sejarah, peta wilayah, dan hukum yang berlaku,” ungkapnya.

Sebelumnya, situasi di lapangan sempat memanas pada Senin (6/4/2026), ketika sekitar 50 perwakilan masyarakat Negeri Luhu melakukan aksi damai di lokasi pengoboran milik PT Manusela Prima Mining.

Dalam aksi tersebut, mereka memasang spanduk yang menyatakan wilayah tersebut sebagai tanah ulayat Negeri Luhu dan menolak aktivitas tambang tanpa izin adat.

Namun, ketegangan terjadi saat rombongan hendak meninggalkan lokasi, ketika berhadapan dengan sekelompok pemuda Desa Lokki. Sempat terjadi aksi saling kejar yang dipicu teriakan provokasi, namun berhasil diredam oleh aparat keamanan dari TNI dan Polri.

Setelah rombongan Luhu meninggalkan lokasi, pemuda Lokki kemudian menurunkan spanduk tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap klaim yang disampaikan.

Hingga kini, KBHI berharap situasi di wilayah Huamual tetap kondusif dan semua pihak dapat menahan diri serta mengedepankan penyelesaian damai demi menjaga keharmonisan dan nama baik Bumi Huamual. (SLP-RN)

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update